Mereka Sempat Tersenyum
Pada hari itu, Minggu, 24 Mei 2026. Jürgen Perjul (55) dan Astrid Perjul (57), pasangan suami-istri asal Austria, berjalan berdampingan di atas jembatan gantung menuju Air Terjun Cunca Wulang, yang dekat dengan Labuan Bajo, Flores, NTT. Pemandu wisata mereka menyaksikan keduanya tersenyum ke kamera.
Lalu terdengar suara keras — seperti dahan pohon besar yang patah.
Dalam hitungan detik, beberapa papan lantai jembatan amblas. Jürgen dan Astrid jatuh sekitar 10 meter ke bebatuan dan sungai di bawahnya. Keduanya meninggal di tempat.
Ini bukan sekadar kecelakaan biasa. Ini adalah akumulasi kegagalan yang sudah berjalan bertahun-tahun sebelum hari itu. Ironisnya, jembatan sepanjang 70 meter tersebut baru direnovasi pada tahun 2023. Artinya, insiden fatal justru terjadi kurang dari tiga tahun setelah pekerjaan perbaikan dilakukan.
Mengapa Kayu Tropis Bisa Menipu?
Hasil inspeksi pasca kejadian menunjukkan sejumlah temuan yang mengkhawatirkan. Sebagian besar papan pijak ternyata sudah tidak stabil, terangkat, atau terlepas dari strukturnya. Jaring pengaman di kedua sisi jembatan dilaporkan rusak atau hilang hingga sekitar 90 persen. Selain itu, telah terbentuk celah sepanjang 1,2 meter pada dek jembatan sebelum insiden terjadi.
Pertanyaannya, bagaimana kerusakan sebesar dan senyata itu bisa luput dari pengawasan?

Jawabannya berada pada karakteristik lingkungannya. Kawasan air terjun memiliki kelembapan yang tinggi hampir sepanjang tahun dan minim paparan sinar matahari langsung. Dalam kondisi ekstrem seperti ini, material kayu mengalami pelapukan jauh lebih cepat dibandingkan wilayah beriklim sedang.
Berbagai penelitian mengenai durabilitas kayu menunjukkan bahwa laju degradasi kayu struktural di iklim tropis lembap berlangsung jauh lebih agresif. Kayu yang dirancang bertahan hingga puluhan tahun, dapat mengalami kerusakan serius hanya dalam waktu 5 hingga 8 tahun apabila tidak mendapatkan pemeliharaan yang memadai.
Masalahnya, proyek renovasi infrastruktur sering kali terjebak pada aspek kosmetik yang hanya fokus pada bagian yang terlihat oleh pengguna. Permukaan luar tampak baru dan aman, tetapi kondisi struktur utama di bawahnya tidak diperiksa secara menyeluruh.
Padahal, bagian yang paling rentan justru berada di area bawah yang luput dari pandangan mata. Jamur pelapuk, rayap, kelembapan tinggi, serta siklus basah dan kering yang berulang biasanya mulai merusak kayu dari dalam. Serangan fatal ini sering dimulai pada sambungan baut, ujung elemen kayu, atau retakan kecil yang tampak tidak berbahaya dari atas.
Akibatnya, sebuah jembatan dapat terlihat layak secara visual, tetapi sebenarnya telah kehilangan sebagian besar kekuatan strukturnya. Dalam dunia teknik, kondisi ini dikenal sebagai kerusakan tersembunyi (hidden deterioration).
Swiss Cheese Model: Lima Lapisan Kegagalan
Kasus Cunca Wulang juga menunjukkan pola kegagalan yang dikenal dengan Swiss Cheese Model. Menurut konsep ini, kecelakaan besar tidak pernah disebabkan oleh satu kesalahan tunggal. Musibah terjadi ketika beberapa lapisan perlindungan gagal secara bersamaan, layaknya lubang-lubang pada keju swis yang kebetulan berjejer dalam satu garis lurus.

Di Cunca Wulang, setidaknya terdapat lima lapisan pertahanan yang tidak berfungsi:
1. struktur penyangga bawah mengalami degradasi,
2. tidak tersedia prosedur inspeksi yang jelas,
3. jaring pengaman sekunder rusak hingga sekitar 90 persen,
4. tidak ada rambu untuk para wisatawan, dan
5. tidak jelas siapa yang bertanggung jawab secara struktural
Apabila satu saja dari lapisan perlindungan tersebut bekerja dengan baik, misalnya jembatan ditutup karena celah 1,2 meter terdeteksi, atau jaring pengaman dipasang di bawah deck untuk menahan jatuhnya korban, tragedi ini pasti dapat dicegah.
Sayangnya, pola kelalaian serupa bukan pertama kali terjadi di industri pariwisata kita.
Kasus Serupa di Tempat Lain
Pada Oktober 2016, Jembatan Kuning yang menghubungkan Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan di Bali ambruk saat berlangsungnya upacara keagamaan. Delapan orang meninggal dunia dan lebih dari tiga puluh lainnya mengalami luka-luka. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa penyebab ambruknya jembatan karena “pemeliharaan yang tidak memadai”.

Pada Oktober 2023, panel kaca Jembatan The Geong di kawasan Limpakuwus Pine Forest, Banyumas, pecah saat digunakan wisatawan. Empat orang terjatuh dan satu orang meninggal dunia. Saat insiden terjadi, jembatan diketahui nekat dibuka tanpa sertifikat laik fungsi.

Kasus serupa juga terjadi di luar negeri dengan pola yang sama.
Pada 30 Oktober 2022, Jembatan Morbi di Gujarat, India, runtuh hanya empat hari setelah dibuka kembali pasca renovasi kosmetik. Sebanyak 141 pejalan kaki meninggal dunia.

Kemudian pada 15 Juni 2025, sebuah jembatan besi di kawasan wisata Kundamala, Pune, India, runtuh saat dipenuhi pengunjung. Insiden tersebut menyebabkan dua orang meninggal dunia dan tiga puluh dua lainnya terluka.

Best Practices yang Menginspirasi
Kabar baiknya, dunia juga menyediakan banyak bukti bahwa jembatan wisata yang ekstrim sekalipun dapat dioperasikan secara aman, asalkan didukung oleh rekayasa teknik yang benar dan pengawasan yang konsisten.
Salah satu contohnya adalah Sky Bridge 721 di Dolni Morava, Republik Ceko. Jembatan ini membentang sepanjang 721 meter pada ketinggian sekitar 95 meter di atas lembah. Lokasinya bahkan berada tidak jauh dari Austria, negara asal kedua korban Cunca Wulang.

Meski berada di lingkungan pegunungan yang menantang, jembatan tersebut dikelola dengan standar teknik yang ketat, inspeksi berkala yang terjadwal, dan sistem pengelolaan profesional, sehingga berhasil menjadi salah satu destinasi wisata unggulan dunia yang aman.
Contoh lain adalah Zhangjiajie Glass Bridge di China yang belakangan kembali viral di media sosial. Jembatan sepanjang 430 meter ini berada sekitar 300 meter di atas permukaan lembah. Struktur lantainya menggunakan 120 panel kaca berlapis tiga dengan ketebalan sekitar 5 sentimeter dan dirancang matang untuk menampung hingga 800 pengunjung secara bersamaan.

Indonesia sebenarnya juga memiliki contoh keberhasilan serupa yang patut dicontoh.
Jembatan Gantung Lembah Purba di Situ Gunung, Sukabumi, membentang sepanjang 535 meter dan termasuk salah satu jembatan gantung pejalan kaki terpanjang di Asia. Sistem operasionalnya telah dilengkapi pengendalian digital yang ketat untuk membatasi jumlah pengguna di atas jembatan. Ketika kapasitas maksimum 90 orang tercapai, antrean pengunjung pada gerbang masuk akan dihentikan secara otomatis oleh sistem.

Apa yang Bikin Beda?
Perbandingan ini menunjukkan satu hal penting. Faktor pembeda antara jembatan yang aman dan jembatan yang berisiko tinggi bukan semata-mata besar kecilnya anggaran pembangunan. Yang paling menentukan adalah keberadaan sistem.
Sistem inspeksi yang konsisten, sistem dokumentasi yang lengkap, sistem pengendalian kapasitas, dan yang terpenting, sistem akun(tabilitas yang jelas.
Karena itu, transfer pengetahuan dari ahli jembatan kepada pengelola infrastruktur wisata perlu menjadi prioritas mendesak. Metode penilaian kondisi visual, pemeriksaan kelapukan, pemetaan kerusakan, hingga penentuan batas beban yang selama ini digunakan pada jembatan jalan nasional sebenarnya dapat diterapkan langsung pada jembatan wisata.
Langkah Ke Depan
Ke depan, setiap jembatan wisata wajib memiliki Berkas Jembatan yang memuat identitas struktur, riwayat konstruksi, kapasitas beban yang terverifikasi, serta catatan inspeksi berkala.
Inspeksi visual perlu dilakukan sedikitnya sekali setiap tahun oleh personel yang terlatih. Pemeriksaan tidak boleh hanya mengandalkan mata telanjang, melainkan harus dilengkapi penggunaan alat bantu untuk mendeteksi pembusukan internal.
Selain itu, setiap lima tahun, ahli jembatan bersertifikat perlu melakukan evaluasi struktural menyeluruh dan menerbitkan surat pernyataan kelayakan. Pemerintah daerah juga harus tegas menjadikan sertifikat laik fungsi sebagai syarat wajib agar suatu jembatan wisata dapat dioperasikan. Penutupan jembatan yang tidak laik bukanlah sebuah kegagalan pariwisata, melainkan bukti bahwa sistem keselamatan bekerja dengan baik.
Jürgen dan Astrid datang ke Indonesia untuk menikmati keindahan alam yang selama ini menjadi kebanggaan kita. Mereka mempercayakan keselamatan mereka kepada sistem yang seharusnya melindungi setiap wisatawan.
Tragedi ini tidak dapat diubah, namun pelajarannya tidak boleh diabaikan.
Cara terbaik menghormati mereka adalah dengan memastikan tidak ada lagi nyawa yang dikorbankan demi sebuah kelalaian. Jembatan wisata seharusnya menjadi jalan untuk mengagumi keindahan, bukan tempat sebuah perpisahan.

Leave a Reply