Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 05.58 WITA, gempa magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, dengan kedalaman sekitar 15 km. BMKG mengidentifikasi gempa ini sebagai gempa dangkal dengan mekanisme sesar naik (thrust fault) yang konsisten dengan sistem Flores Back-Arc Thrust.
Gempa tidak selalu merusak jalan dan jembatan dengan cara yang sama. Ada lereng yang longsor, badan jalan yang retak, bearing jembatan yang bergeser, hingga pondasi yang kehilangan kestabilannya. Mengapa hal itu terjadi? Yuk kita bahas.

Sumber Gempa: Sesar yang Mendorong dari Bawah
Flores berada di kawasan tektonik yang sangat aktif akibat interaksi lempeng Indo-Australia dengan sistem Sunda–Banda. Pada sesar naik, gaya tekan menyebabkan satu blok batuan bergerak naik relatif terhadap blok lainnya. Ibaratnya ada dua lembar karpet yang didorong berhadapan, salah satunya akan terdorong dan “menumpuk” di atas karpet yang lain.
Gempa Flores 2026 tergolong dangkal, dengan pusat gempa sekitar 15 km di bawah permukaan. Gelombang gempa menempuh jarak yang lebih pendek sehingga guncangan di wilayah dekat sumber menjadi sangat kuat. Salah satu ukurannya adalah Peak Ground Acceleration (PGA), yaitu percepatan maksimum tanah saat gempa. Jika magnitudo menggambarkan besarnya energi yang dilepaskan oleh gempa, PGA menggambarkan seberapa kuat tanah di suatu lokasi tersentak.

Longsor: Ketika Tanah Bergerak
Bayangkan mobil yang direm mendadak. Tubuh kita terdorong ke depan bukan karena ada yang menarik, melainkan karena tubuh memiliki “inersia”, yaitu kecenderungan untuk mempertahankan geraknya. Hal yang sama terjadi pada tanah dan struktur saat gempa. Ketika tanah bergerak sangat cepat, sentakan gempa dapat menurunkan kestabilan dan memicu longsor, terutama jika lereng sebelumnya sudah berada dalam kondisi kritis.
Tanah lunak, tanah lepas, batuan, dan endapan tertentu dapat merespons guncangan secara berbeda, sama seperti meja yang keras dan meja yang lentur akan bereaksi berbeda saat diguncang dengan kekuatan yang sama.
Kondisi ini sangat penting di Flores karena banyak jalan melewati medan berbukit dan pegunungan, memotong lereng, serta berada di sekitar lembah dan sungai. Ketika gempa datang, gaya inersia akibat percepatan tanah menambah gaya yang mendorong massa tanah bergerak.
Dalam analisis geoteknik, kestabilan lereng sering dinilai menggunakan Factor of Safety (FS), yaitu perbandingan antara gaya yang menahan longsor dan gaya yang mendorongnya. Ketika gempa meningkatkan gaya penggerak, FS dapat turun mendadak, dan lereng yang sebelumnya sudah kritis dapat runtuh.
Namun tidak semua longsor punya mekanisme yang sama. Lereng di atas jalan dapat runtuh dan menimbun badan jalan. Lereng di bawah jalan dapat kehilangan kestabilan sehingga badan jalan retak, turun, atau ambrol. Pada tebing batuan, blok batu dapat terlepas dari bidang retakan dan jatuh atau menggelinding sebagai rockfall, bahaya yang sangat sulit ditangani karena kecepatannya tinggi dan waktu peringatannya hampir tidak ada.

Retakan badan jalan juga tidak otomatis berarti jalan tersebut berada di atas sesar aktif. Retakan dapat terjadi karena deformasi permanen tanah, pergerakan lereng, penurunan diferensial, atau perbedaan respons antara tanah asli dan timbunan. Surface rupture atau patahan permukaan adalah mekanisme yang berbeda — terjadi ketika pergerakan sesar itu sendiri mencapai permukaan. Karena itu, penyebab retakan harus ditentukan melalui pemeriksaan geologi, geoteknik, topografi, dan deformasi lapangan, bukan tebakan sekilas.
Jembatan: Sistem yang Harus Bergerak Bersama
Jembatan mempunyai kerentanan yang berbeda karena terdiri atas banyak elemen yang harus bergerak sebagai satu sistem: gelagar, bearing, pier, abutmen, pondasi, dan tanah. Saat gempa, tiap elemen bisa mengalami perpindahan berbeda. Ibarat penumpang di dalam bus yang tiba-tiba direm, lantai bus berhenti lebih dahulu sementara tubuh penumpang masih cenderung bergerak ke depan. Perbedaan gerakan inilah yang menghasilkan gaya besar pada sistem jembatan.
Salah satu bagian yang perlu diperiksa adalah bearing atau perletakan. Bearing bukan sekadar penyangga gelagar, tetapi juga memungkinkan gerakan tertentu akibat temperatur, susut, rangkak, dan beban gempa. Jika perpindahan akibat gempa melebihi kapasitas sistem, bearing dapat bergeser atau rusak. Pergeseran beberapa sentimeter tidak otomatis berarti jembatan tidak aman, tetapi juga tidak boleh dianggap sepele, perlu dibandingkan dengan kapasitas perpindahan, panjang dudukan gelagar, kondisi bearing, restrainer, pier, abutmen, dan pondasi.
Risiko yang lebih serius adalah unseating, ketika gelagar kehilangan dudukannya dan berpotensi jatuh. Bayangkan sebuah papan yang diletakkan di atas dua balok. Jika papan bergeser terlalu jauh, sebagian besar panjangnya keluar dari tumpuan dan akhirnya bisa jatuh. Prinsip yang sama berlaku pada gelagar jembatan. Karena itu, ketahanan gempa jembatan tidak hanya bergantung pada kekuatan beton dan baja, tetapi juga pada kemampuan sistem mengendalikan perpindahan.

Jembatan juga dapat mengalami pounding, benturan antarbagian jembatan ketika celah antar-bentang tidak cukup mengakomodasi gerakan gempa. Pada tanah tertentu, gempa juga dapat memicu likuifaksi, terutama pada tanah berpasir lepas yang jenuh air, ketika tekanan air pori meningkat akibat guncangan siklik sehingga tegangan efektif dan kekuatan tanah turun drastis. Tanah tidak benar-benar berubah menjadi cairan, tetapi kehilangan kemampuan menopang beban seperti kondisi normal, akibatnya bisa terjadi settlement, lateral spreading, atau pergeseran fondasi dan abutmen.
Karena itu, jembatan yang “masih bisa dilewati” belum tentu berarti aman untuk operasi normal. Setelah gempa, keputusan pembukaan harus mempertimbangkan kondisi struktur, jenis kendaraan, beban, kecepatan, dan tingkat kerusakan. Jika terdapat pergeseran bearing signifikan, kerusakan pier atau abutmen, perubahan alignment atau elevasi, indikasi pergerakan fondasi, settlement besar pada oprit, likuifaksi, atau kondisi lain yang membuat kapasitas struktur tak dapat diyakini, lalu lintas harus dibatasi atau jembatan ditutup sampai pemeriksaan lebih lanjut dilakukan.
Pada fase tanggap darurat, prioritas pertama adalah keselamatan dan pemulihan akses minimum untuk evakuasi serta logistik. Tetapi membuka akses tidak boleh mengabaikan risiko. Pemeriksaan cepat harus dilakukan terhadap lereng, badan jalan, gorong-gorong, retaining wall, jembatan, dan oprit. Titik yang berbahaya harus segera ditutup atau diberi pembatasan.
Untuk jembatan yang menunjukkan indikasi kerusakan, pemeriksaan tidak berhenti pada pengamatan visual. Diperlukan pengukuran perpindahan, survei elevasi dan alignment, pemetaan retak, pemeriksaan bearing, evaluasi pier dan abutmen, pemeriksaan fondasi dan tanah, hingga instrumentasi pemantauan. Uji beban bukan keharusan untuk setiap jembatan, dilakukan bila evaluasi teknis menunjukkan kebutuhan untuk memastikan kapasitas struktur.
Gempa Susulan: Kerusakan yang Belum Selesai
Kerusakan yang tampak hari ini belum tentu kerusakan final. Struktur yang sudah terganggu mungkin masih mampu menahan beban normal, tetapi cadangan kekuatannya menyusut, dan gempa susulan bisa memperbesar retakan yang sebelumnya tampak ringan. Karena itu, pemeriksaan pascagempa bukan hanya mencari kerusakan yang sudah terjadi, tetapi juga mengidentifikasi kerusakan yang berpotensi berkembang.

Perbedaan tsunami Flores 1992 dan 2026 memberi pelajaran serupa tentang pentingnya melihat lebih dari sekadar angka magnitudo. Gempa 1992 menghasilkan tsunami dengan tinggi maksimum sekitar 25 meter di beberapa lokasi, sedangkan tsunami 2026 jauh lebih kecil. Besarnya tsunami tidak hanya ditentukan oleh magnitudo, tetapi juga lokasi sumber, geometri sesar, deformasi dasar laut, kedalaman laut, dan kemungkinan mekanisme tambahan seperti longsoran bawah laut. Dua gempa dengan magnitudo mirip tidak otomatis menghasilkan tsunami berukuran sama, prinsip yang sama berlaku untuk kerusakan darat: dua ruas jalan yang terguncang sama kerasnya bisa berakhir sangat berbeda tergantung kondisi lereng dan tanah di bawahnya.
Memperbaiki Sumber Masalah, Bukan Sekadar Permukaan
Perbaikan jalan tidak boleh hanya berarti menutup kembali aspal yang rusak. Jika kerusakan disebabkan pergerakan lereng, lereng harus distabilkan. Jika disebabkan settlement, tanah harus diperiksa dan diperbaiki. Jika masalahnya bearing atau fondasi jembatan, sistem jembatan harus dievaluasi. Memperbaiki permukaan tanpa menangani sumber masalah hanya akan mengulang kerusakan yang sama pada gempa berikutnya.
Teknologi seperti drone dan LiDAR dapat membantu pemetaan pascagempa secara lebih cepat dan menyeluruh. Retakan pada mahkota lereng, perubahan elevasi, atau deformasi permukaan yang sulit terlihat dari jalan dapat dideteksi melalui survei udara dan pemodelan tiga dimensi. Namun teknologi hanya menyediakan data, engineer tetap harus menentukan penyebab kerusakan, tingkat risikonya, dan metode penanganannya.
Untuk jembatan eksisting di wilayah rawan gempa, retrofit seismik juga perlu diprioritaskan: perbaikan bearing, pemasangan seismic restrainer, peningkatan panjang dudukan gelagar, perkuatan pier, perbaikan hubungan antar-elemen, atau peningkatan fondasi, sesuai hasil evaluasi. Prinsipnya bukan menunggu jembatan rusak total, melainkan mengurangi kemungkinan keruntuhan sebelum gempa berikutnya terjadi. Ketentuan ketahanan gempa untuk jembatan mengacu pada SNI 2833:2016 — Perencanaan Jembatan terhadap Beban Gempa.
Penutup: Data yang Ditinggalkan Gempa
Pada akhirnya, gempa justru mengungkap kelemahan yang selama ini tersembunyi: lereng yang sudah kritis, drainase yang buruk, timbunan yang tidak stabil, bearing dengan kapasitas perpindahan terbatas, atau fondasi di tanah yang rentan. Setiap retakan, longsoran, bearing yang bergeser, dan jembatan yang tetap berdiri memberikan informasi tentang bagaimana infrastruktur kita merespons gempa.
Flores memiliki sistem tektonik aktif yang mampu menghasilkan gempa besar berulang. Gempa 1992 dan 2026 tidak boleh dianggap sebagai pengulangan persis dari rupture yang sama, tetapi keduanya menunjukkan bahwa risiko gempa besar di kawasan ini nyata dan harus diperhitungkan dalam perencanaan infrastruktur. Gempa tidak dapat dicegah, tetapi dampaknya terhadap jalan dan jembatan dapat dikurangi melalui perencanaan yang lebih baik, pemeriksaan yang benar, stabilisasi lereng, retrofit jembatan, dan pengelolaan risiko berbasis data.
Pada wilayah dengan sesar aktif, pertanyaannya bukan hanya “apakah gempa besar akan terjadi lagi?” pertanyaan yang jauh lebih penting bagi engineer adalah: ketika gempa berikutnya datang, apakah infrastruktur kita sudah lebih siap?
Referensi:
- https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/bmkg-1624-gempa-bumi-susulan-pasca-tsunami-flores-masih-terjadi-masyarakat-diimbau-tetap-tenang-dan-waspada
- https://www.metrotvnews.com/read/bD2CwXz2-menteri-pu-sembilan-ruas-jalan-nasional-di-flores-bisa-dilalui-lagi
- https://kupang.antaranews.com/berita/197377/menteri-pu-minta-pemda-infokan-titik-kerusakan-jalan-trans-flores-pascagempa-di-ntt
- https://www.kompas.id/artikel/bagaimana-kondisi-terkini-dampak-gempa-flores-dan-upaya-penanganannya

Leave a Reply