Menyambut El Niño Tahun Ini: Kenapa Bahayanya Justru Baru Terasa Tahun Depan?

Selama ini, setiap mendengar kata El Niño, pikiran kita langsung melayang pada sawah yang retak, peternak yang merugi, atau kabut asap kebakaran hutan yang menyesakkan dada. Jarang sekali ada yang membahas bagaimana fenomena ini diam-diam merusak jalan kita, meretakkan jembatan, dan menanam “bom waktu” yang siap meledak justru ketika musim kemarau telah usai.

1. Peta Dunia dan Kipas Angin Raksasa

Untuk memahami El Niño, mari kita buka peta dunia dan lihat bagian Indonesia. Jika Anda meletakkan jari di pulau Papua, lalu menarik garis lurus ke arah kanan (Timur), jari Anda akan melalui lautan luas sebelum akhirnya ketemu negara Brazil di Benua Amerika Selatan. Lautan itu lah yang kita sebut Samudra Pasifik.

Dalam kondisi normal, di atas samudera ini terdapat “kipas angin raksasa” meniupkan angin dari arah Amerika menuju Indonesia yang menyebabkan air hangat menguap di dekat Indonesia, lalu membentuk awan hitam tebal, dan menjatuhkan hujan.

Nah, ketika El Niño tiba, kipas angin raksasa ini tiba-tiba lemas atau berbalik arah. Air hangat yang harusnya ke Indonesia malah merosot kembali ke arah timur (Amerika). Awan hujan ikut pindah menjauhi kita. Indonesia pun kering kerontang.

Kebalikan dari El Niño adalah La Niña, yaitu saat kipas angin bertiup terlalu kencang, menyemburkan air hangat secara brutal ke Indonesia, membuat kita kebanjiran.

Menurut NOAA, El Niño terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik menjadi lebih hangat dari biasanya selama beberapa bulan berturut-turut. Kondisi paling kuat terjadi pada November–Desember 2015 dengan tingkat pemanasan mencapai +2,6, jauh di atas batas normal El Niño. Karena sangat kuat dan berdampak besar, peristiwa ini dijuluki “El Niño Godzilla”.

El Niño 2026: Sudah di Depan Pintu

BMKG telah mengkonfirmasi bahwa El Niño diprediksi aktif mulai Juni 2026 hingga sekitar Maret–Mei 2027, dengan intensitas moderat hingga kuat. 

Yang perlu digarisbawahi: 46% wilayah Indonesia mengalami kemarau lebih awal dari normal di 2026, dan 60% wilayah Indonesia diprediksi mencapai puncak kekeringan bersamaan di bulan Agustus 2026. Bagi infrastruktur jalan kita, ini bukan sekadar berita cuaca. Ini adalah peringatan teknis yang harus direspons sekarang.

2. Spion Kanan dan Spion Kiri Indonesia

Menilai cuaca Indonesia hanya dengan melihat El Niño itu ibarat menyetir di jalan tol yang padat dengan hanya melihat kaca spion kanan, sambil menutup mata pada spion kiri.

Mengapa? Karena di sebelah barat pulau Sumatra, terbentang Samudra Hindia yang menuju ke Afrika. Di samudra ini, ada fenomena kembaran El Niño bernama Indian Ocean Dipole (IOD).

Ketika IOD memasuki fase Positif, angin di Samudra Hindia meniup air hangat menjauhi Sumatra menuju ke benua Afrika. Akibatnya, laut di barat Indonesia mendingin dan tidak menghasilkan awan hujan.

Jika spion kanan kita (Pasifik) terkena El Niño dan spion kiri kita (Samudra Hindia) terkena IOD Positif secara bersamaan, Indonesia akan mengalami Double Combo kekeringan yang mengerikan.

3. Catatan Kelam Sejarah Kita

Apakah El Nino baru pertama kali? tidak. Indonesia sudah berulang kali menghadapinya, sebagai berikut:

Tahun 1997/1998 — The Great El Niño & IOD Positif Bersamaan:

Kombinasi maut dua samudra. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di Nature Communications dan CIFOR-ICRAF, lebih dari 9 juta hektar lahan terbakar di Indonesia, termasuk hutan, lahan gambut, dan lahan pertanian. Kabut asap mengunci langit Asia Tenggara selama berbulan-bulan dan World Bank menyebutkan dampak kerugian ekonomi antara US4,5 hingga US19,7 miliar.

Tahun 2015 — Era Godzilla El Niño:

Kekeringan menjerat 16 provinsi, menghanguskan 2,61 juta hektar lahan (data World Bank). Kerugian ekonomi akibat kebakaran dan kabut asap mencapai IDR 221 triliun dalam hanya lima bulan — angka yang dikonfirmasi langsung oleh laporan Indonesia Economic Quarterly Desember 2015 dari World Bank.

Tahun 2019 — Kekuatan IOD Positif Ekstrem:

Pada tahun ini, El Niño di Pasifik sebenarnya dalam kondisi lemah-netral. Namun IOD Positif di Samudra Hindia melonjak ke nilai ekstrem. Hasilnya: kekeringan serius melanda Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Menurut laporan BNPB, 92% wilayah Indonesia mengalami kekeringan dan sekitar 48,5 juta jiwa di 28 provinsi terdampak.

4. Efek Pemanggangan: 5 Dampak Nyata pada Jalan dan Jembatan

Sekarang, kembali ke laptop. Mengapa kekeringan ekstrem akibat El Niño adalah musuh dalam selimut bagi jalan kita?

1. Aspal Melembek dan Rutting

Jika anda bertanya, “Suhu udara El Niño kan paling tinggi 37–38°C, mengapa aspal bisa rusak?”

Aspal itu berwarna hitam pekat. Solar absorptance-nya sebesar 85–95%,  artinya ia menyerap hampir seluruh radiasi matahari langsung. Akibatnya adalah, suhu permukaan aspal secara konsisten 15–26°C lebih tinggi dari suhu udara kita.

Artinya, jika suhu udara 38°C, suhu permukaan aspal bisa tembus 60–65°C. Pada rentang suhu inilah bitumen (zat pengikat aspal) melampaui softening point-nya dan mulai kehilangan sifat elastisnya. Di bawah beban berulang kendaraan berat, permukaan aspal mulai beralur membentuk rutting. Semakin panas, semakin dalam alurnya. Ini bukan kerusakan mendadak, ini adalah kegagalan material yang terakumulasi setiap hari selama El Niño berlangsung.

2. Retak Memanjang Akibat Tanah Lempung Menyusut — Longitudinal Shrinkage Cracking

Banyak jalan kita dibangun di atas tanah lempung ekspansif. Saat dihantam kemarau panjang El Niño, kandungan air di dalam pori tanah di bawah jalan menguap. Tanah mengalami penyusutan volume yang signifikan, memicu keretakan vertikal yang dalam.

Lapisan aspal di atasnya, yang dipaksa mengikuti gerakan menyusut ini, akan ikut robek dan menghasilkan retakan memanjang (longitudinal cracks). Yang lebih berbahaya: retakan ini tidak selalu terlihat lebar dari permukaan. Seringkali hanya berupa celah tipis — tapi celah itulah yang menjadi pintu masuk air saat hujan tiba.

3. Jalan Beton yang “Meledak” — Pavement Blowup

Jalan beton (rigid pavement) didesain dalam bentuk lembaran pelat dengan celah sambungan (expansion joint) di antaranya untuk ruang memuai.

Masalahnya: selama kemarau panjang El Niño, celah sambungan tersebut bisa tersumbat oleh debu keras, kerikil, atau material lain yang masuk dan mengeras. Ketika beton memuai akibat panas El Niño yang ekstrem, ia tidak punya ruang bergerak. Gaya tekan horizontal antar-pelat saling berbenturan, hingga akhirnya pelat beton tersebut patah dan terangkat ke atas secara mendadak. Inilah yang disebut blowup atau buckling.

Di Seattle Amerika pada Juni 2021, satu gelombang panas empat hari memicu sejumlah kejadian blowup beton secara beruntun.

4. Tegangan Termal di Dalam Jembatan — Thermal Stress & Differential Heating

Paparan panas ekstrem membakar bagian atas gelagar jembatan beton secara langsung, sementara bagian bawah tetap terlindung bayangan. Perbedaan suhu yang sangat kontras ini menciptakan gradien suhu non-linear yang tajam di dalam penampang beton.

Fenomena ini dikenal di dunia teknik struktur sebagai thermal gradient  dan dampaknya adalah tegangan tarik internal yang bisa meretakkan beton, terutama pada jembatan prategang (prestressed concrete bridge). Ini adalah mekanisme kerusakan yang nyata, bukan spekulasi.

5. Penuaan Dini Bantalan Karet Jembatan — Elastomeric Bearing Pad Degradation

Bantalan karet elastomer (bearing pad) yang menyangga gelagar jembatan dirancang untuk dua fungsi sekaligus: menopang beban vertikal dan mengakomodasi pergerakan horizontal akibat pemuaian termal. Saat El Niño, komponen ini bekerja mendekati batas desainnya dalam durasi yang sangat panjang.

Radiasi UV dan suhu tinggi yang berkepanjangan mempercepat oksidasi dan degradasi karet. Material yang seharusnya tetap elastis selama 20–30 tahun bisa kehilangan kelenturannya jauh lebih cepat. Bearing pad yang sudah getas tidak bisa lagi meredam pergerakan struktur dengan baik — dan ini menciptakan tegangan konsentrasi di titik-titik kritis jembatan.

5. “Bom Waktu” di Musim Hujan Berikutnya

Ini adalah bagian yang paling jarang dibahas, namun paling penting bagi keselamatan infrastruktur jalan dan jembatan kita.

Bahaya terbesar bagi jalan kita bukan saat kemarau El Niño sedang berlangsung — melainkan justru ketika musim hujan pertama tiba sesudahnya.

Mengapa? Karena selama berbulan-bulan kemarau, tanah lempung di bawah dan di sekitar jalan telah menyusut dan membentuk retakan-retakan dalam. Aspal di atasnya juga telah berkembang retakan halus akibat oksidasi UV dan siklus termal. Semua ini tidak selalu terlihat jelas dari permukaan. Jalan tampak masih baik.

Kemudian hujan pertama tiba.

Mekanisme ini dikenal dalam geoteknik sebagai wetting collapse dan pore pressure-induced slope failure — dan ini adalah penyebab nyata di balik banyak kerusakan jalan masif yang terjadi di awal musim hujan setelah kemarau El Niño panjang. Ironisnya, kerusakannya sering dilaporkan sebagai “akibat hujan deras” — tanpa pernah menautkannya ke El Niño yang sudah berlalu berbulan-bulan sebelumnya.

6. Tiga Hal yang Bisa Kita Lakukan Sekarang

Kita tidak bisa menyuruh El Niño pergi. Tapi kita bisa merancang, membangun, dan memelihara infrastruktur yang jauh lebih siap menghadapinya. Berikut adalah upaya yang dapat kita lakukan

1. Proteksi Aspal Lama dengan Crack Sealing dan Slurry Seal

 Isi retak rambut dengan aspal polimer dan hamparkan Slurry Seal pada aspal yang aus, agar menjadi “mantel” anti air supaya air hujan tidak meresap dan membuat lubang.

 

2. Pelihara Expansion Joint Jembatan

 Bersihkan sedimen/batu dari celah siar muai jembatan dan ganti karet sealant yang getas untuk memberi ruang bagi jembatan untuk memuai maksimal

3. Tutup Bahu Jalan Kelas S

Tutup dan padatkan kembali retakan tanah pada Bahu Jalan Kelas S/Tanah menggunakan material setempat yang dicampur/ditutup dengan kapur  untuk memitigasi sifat kembang susut tanah ekspansif dan menutup jalur air agar tidak masuk ke dalam tanah dasar yang dapat membuat perkerasan amblas.

 

4. Proteksi Lereng Kritis dengan Vetiver

Tanam rumput Vetiver pada lereng gundul sebagai persiapan sebelum musim hujan, karena akar Vetiver (3–5 meter) dapat menjadi jangkar alami pengikat tanah.

5. Gunakan Aspal Polimer, Asbuton, & Stabilisasi Kimia

 Gunakan aspal polimer atau asbuton, serta lakukan stabilisasi kimia tanah dasar untuk meningkatkan ketahanan termal aspal di jalur logistik berat yang bersuhu permukaan >60°C.

Penutup

Membaca runtunan data di atas mungkin membuat kita merasa cemas. Tapi sejarah teknik sipil di seluruh dunia mencatat bahwa lompatan terbesar tidak lahir dari kondisi nyaman. Kita menciptakan jembatan gantung raksasa karena ditantang oleh dalamnya jurang. Kita menciptakan gedung tahan gempa karena ditantang oleh goyangan tektonik bumi.

Ancaman El Niño 2026 yang sudah ada di depan pintu, dan bayangan kegagalan infrastruktur di awal musim hujan 2027, adalah panggilan bagi kita untuk mengambil langkah lebih cerdas dan proaktif dalam membangun jalan yang lebih tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Referensi:

NOAA Climate Prediction Center (ONI Historical Data);

BMKG Rilis Resmi Mei 2026 (Kompas, Detik, IDN Times);

World Bank Indonesia Economic Quarterly Desember 2015;

Nature Communications — “Assessing costs of Indonesian fires” (2021);

ScienceDirect — “Analysis of cooling performance using light-colored aggregates” (2024);

Transportation Research Board Record 1417 — “Predicting Maximum Pavement Surface Temperature”;

FHWA/NCAT — “Quantifying Pavement Albedo”;

ScienceDirect & Pavement Interactive — Concrete Blowup Research; CIFOR-ICRAF 

Leave a Reply

Discover more from ilmu jalan

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading