Safer people, ada 9 prinsip dasar keselamatan di persimpangan, sebagaimana dikutip dari Panduan Teknis Rekayasa Keselamatan Jalan 2012 di bawah ini:
- Jarak pandang yang cukup, agar pengemudi yang mendekat dapat mengetahui adanya sebuah simpang dan bentuk tata letak simpang tersebut. Pengemudi perlu cukup waktu untuk mengenali persimpangan agar dapat bereaksi secara benar. Perencana perlu memahami jarak pandang pendekat dan jarak pandang berkeselamatan di persimpangan.
- Titik konflik yang minimal. Titik konflik adalah titik dimana ruang jalan digunakan secara bersamaan oleh kendaraan dari kaki simpang yang berbeda. Semakin banyak titik konflik maka semakin besar risiko terjadinya tabrakan. Ada 4 jenis manuver utama di persimpangan: diverging, merging, crossing dan weaving.
- Kecepatan relatif antar kendaran yang rendah. Kecepatan kendaraan yang memasuki simpang sangat berpengaruh terhadap tingkat keparahan apabila terjadi tabrakan. Sebagai contoh, apabila ada dua kendaraan dimana kendaraan pertama melaju dengan kecepatan 60 km/jam, dan kendaran lain melaju dengan kecepatan 10 km/jam pada simpang dengan sudut 90 derajat, maka kecepatan relatif yang ditimbulkan adalah 62 km/jam (lihat gambar di bawah), sehingga apabila terjadi tabrakan maka dampaknya akan sangat fatal. Ini berbeda dengan bentuk simpang bundaran, dimana kecepatan kendaraan dipaksa untuk melambat sehingga kecepatan relatifnya pun ikut menurun.

4. Prioritas pada jalan utama. Prioritas perlu diberikan agar simpang dapat tetap memberikan kapasitas maksimal. Namun, terkadang bentuk simpang yang tidak jelas sehingga pengemudi tidak mengetahui mana jalur utama yang harus dipriortaskan. Untuk itu penting untuk memasang rambu petunjuk yang jelas sebelum simpang.
5. Pemisahan konflik. Konflik lalu lintas dapat dipisahkan menurut ruang dan waktu, antara lain dengan APILL (alat pengendali isyarat lalu lintas) yang biasa disebut ‘lampu merah’. Yang perlu diperhatikan adalah apakah warna lampu sudah cukup mencolok, khususnya pada siang hari.
6. Perjelas wilayah konflik, antara lain dengan membentuk sudut simpang yang tegak lurus, meminimalkan jumlah lajur, dan memberikan marka yang jelas.
7. Perjelas lintasan pergerakan kendaraan, agar pengemudi mendapatkan panduan saat mereka berada di jalan dan mereka tetap bergerak pada lintasan yang seharusnya.

8. Hazard sisi jalan yang minimal. Hazard merupakan objek tetap dengan diameter 10 cm atau lebih seperti tiang listrik, tiang lampu, pohon, dsb. Pada lokasi persimpangan, hazard perlu dihindari untuk mengurangi risiko tabrakan kendaraan yang keluar jalur.
9. Penyediaan kebutuhan seluruh pengguna jalan, baik pengendara maupun pejalan kaki dan pesepeda. Seringkali simpang tidak hanya digunakan oleh mobil, namun juga oleh pejalan kaki, pesepeda dan pengguna jalan berkebutuhan khusus. Bentuk simpang harus diatur sedemikian rupa agar dapat mengakomodir kebutuhan seluruh pengguna, seperti contoh penyediaan ramp di bawah ini.

Penjelasan lebih detil dapat dilihat pada panduan di bawah ini

Leave a comment