Saat Minyak Naik, apa aspal ikut?

Construction workers in safety vests and helmets spreading asphalt with a paving machine

Di berita ekonomi, Anda mungkin sering melihat dua istilah: WTI dan Brent. Keduanya sama-sama patokan harga minyak dunia, tetapi berbeda lokasi. WTI (West Texas Intermediate) berasal dari Amerika Serikat, sementara Brent berasal dari Laut Utara dan lebih banyak digunakan dalam perdagangan global. Karena sifatnya yang lebih “internasional”, harga Brent biasanya menjadi acuan utama, termasuk bagi Indonesia. Patokan kita, Indonesia Crude Price (ICP), dalam praktiknya cenderung mengikuti pergerakan Brent.

Sekarang bayangkan Anda sedang menggoreng kerupuk. Setelah selesai, ada sisa minyak di wajan. Ketika harga minyak goreng naik, bukan hanya kerupuk yang mahal—sisa minyak itu pun ikut bernilai lebih tinggi.

Di dunia energi, “sisa minyak” ini bukan limbah. Ia adalah bagian paling berat dari minyak mentah yang tersisa setelah bensin, solar, dan produk lain diambil. Dari sinilah aspal berasal. Artinya, ketika harga minyak dunia naik, dampaknya tidak berhenti di bahan bakar—ia ikut mendorong naik harga aspal.

Masalahnya, Indonesia sangat bergantung pada pasar global. Konsumsi energi nasional mencapai sekitar 1,52 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya sekitar 600 ribu barel. Sisanya, sekitar 588.900 barel per hari, harus diimpor.

Dampaknya terasa langsung pada aspal. Sekitar 78 persen kebutuhan aspal nasional—sekitar 1,5 juta ton per tahun—masih berasal dari impor. Artinya, lebih dari tiga perempat jalan yang kita bangun sangat dipengaruhi oleh harga minyak dunia.

Ketika harga Brent naik, harga aspal di pasar seperti Singapura ikut terdorong. Logikanya sederhana: jika bahan bakunya mahal, “sisa minyaknya” juga ikut mahal.

Di titik ini, Selat Hormuz menjadi sangat krusial. Sebagian pasokan minyak Indonesia, termasuk dari Arab Saudi, melewati jalur ini. Ketika kawasan ini memanas, risiko distribusi meningkat. Biaya asuransi kapal naik, dan yang lebih penting, pasar bereaksi cepat. Harga tidak menunggu krisis terjadi—cukup ada ancaman, harga sudah bergerak.

Penelitian menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1 persen harga minyak mentah bisa mendorong harga aspal naik sekitar 0,6 persen. Dalam proyek besar, angka ini sangat berarti.

Di lapangan, ada satu komponen biaya yang sering tidak terlihat oleh masyarakat: bahan bakar alat berat dan truk proyek. Banyak yang mengira kendaraan proyek mengisi solar seperti kendaraan biasa di SPBU, dengan harga subsidi atau non-subsidi yang kita kenal. Kenyataannya tidak demikian.

Truk pengangkut aspal, asphalt finisher, hingga alat pemadat biasanya menggunakan solar industri atau BBM non-subsidi yang dibeli secara khusus melalui distributor resmi atau agen bahan bakar komersial. Pembeliannya bukan eceran di pompa bensin, melainkan dalam jumlah besar—bisa berupa kontrak pasokan langsung ke proyek atau pengiriman ke tangki penyimpanan di lokasi kerja.

Karena tidak disubsidi, harganya mengikuti pasar. Jika solar di SPBU berada di kisaran 10.000–14.000 rupiah per liter, maka solar industri saat ini bisa berada di kisaran 18.000 hingga 20.000 rupiah per liter, tergantung wilayah dan skema distribusinya.

Artinya, setiap alat berat di proyek pada dasarnya sangat sensitif terhadap fluktuasi harga minyak dunia. Ketika harga minyak naik dan nilai tukar rupiah melemah—misalnya ke kisaran 17.000 per dollar—biaya operasional bisa langsung melonjak 15 hingga 20 persen. Ini bukan angka kecil, karena alat berat bekerja hampir tanpa henti selama proyek berlangsung.

Akhirnya, semua ini bertemu dalam satu titik: biaya proyek jalan. Aspal sendiri menyumbang sekitar 25 hingga 35 persen dari total nilai proyek. Ketika harganya naik, ditambah biaya operasional alat berat yang ikut melonjak, tekanan langsung terasa pada kontraktor.

Dalam kondisi terjepit, pilihan yang muncul biasanya tidak ideal: pekerjaan melambat, atau kualitas terpaksa dikompromikan. Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi dalam jangka waktu tertentu, jalan bisa lebih cepat rusak.

Jalan yang kita lalui setiap hari ternyata tidak sesederhana yang terlihat. Ia terhubung dengan rantai panjang, dari sumur minyak, pasar global, hingga jalur strategis seperti Selat Hormuz.

Karena pada akhirnya, setiap kenaikan harga minyak tidak berhenti di SPBU—ia ikut mengeras di permukaan jalan yang kita pijak setiap hari.

Leave a comment