Gempa dan Jalan: Pelajaran Penting dari Malut dan Sulut

Gempa besar yang mengguncang wilayah Maluku Utara pada awal April 2026 kembali mengingatkan pada satu hal penting yang sering luput dari perhatian: jalan. Gempa bermagnitudo 7,6 yang berpusat di laut dekat Ternate itu memang tidak terjadi tepat di daratan Sulawesi Utara, tetapi getarannya terasa hingga Manado, Bitung, dan wilayah sekitarnya. Banyak orang fokus pada bangunan yang roboh, padahal dalam berbagai pengalaman penanganan infrastruktur pascagempa, justru jalan sering menjadi penentu hidup dan mati pada jam-jam pertama setelah bencana.

Secara sederhana, jalan tidak pernah benar-benar “rusak karena gempa” secara langsung. Yang terjadi adalah tanah di bawahnya yang bergerak akibat proses tektonik, lalu memaksa struktur di atasnya ikut berubah bentuk. Bayangkan jalan seperti karpet yang dibentangkan di atas lantai. Ketika lantai itu bergeser, bergetar, atau naik turun, karpet pasti akan berlipat, retak, bahkan sobek. Itulah yang terjadi saat gempa: gelombang energi merambat dari dalam bumi, menyebabkan deformasi tanah, dan jalan—yang kaku—tidak punya kemampuan untuk mengikuti perubahan ekstrem itu.

Dalam gempa Maluku Utara ini, karakter gempa yang relatif dangkal membuat getaran di permukaan menjadi lebih terasa. Ini berarti bukan hanya bangunan yang terancam, tetapi juga badan jalan, jembatan, dan seluruh akses transportasi. Gempa susulan juga tidak bisa diabaikan. Dalam banyak kejadian, kerusakan jalan justru memburuk setelah gempa utama—retakan kecil berkembang menjadi patahan, bagian yang sudah melemah perlahan runtuh, dan akses yang tadinya masih bisa dilewati akhirnya benar-benar terputus.

Namun yang paling krusial bukan sekadar kerusakan itu sendiri, melainkan dampaknya terhadap evakuasi. Ketika peringatan tsunami sempat dikeluarkan, waktu berubah menjadi sesuatu yang sangat mahal. Dalam situasi seperti itu, jalan tidak lagi sekadar infrastruktur—ia berubah menjadi jalur penyelamat. Orang berlari, kendaraan bergerak, ambulans melaju, bantuan dikirim. Semua bergantung pada satu hal sederhana: apakah jalan masih bisa dilalui.

Jika jalan retak parah, tertutup reruntuhan, atau bahkan terputus, maka evakuasi melambat. Dalam kondisi darurat, keterlambatan beberapa menit saja bisa membawa konsekuensi yang tidak bisa diperbaiki.

Pengalaman gempa Palu 2018 menunjukkan betapa krusialnya hal ini. Saat itu, bukan hanya guncangan yang menjadi masalah, tetapi juga fenomena likuefaksi. Tanah yang jenuh air tiba-tiba kehilangan kekuatannya dan berubah seperti cairan. Jalan yang sebelumnya kokoh mendadak bergelombang, bergeser, bahkan seperti “mengalir” mengikuti tanah. Ada ruas jalan yang hilang dari posisinya, ada yang terputus tanpa pola yang bisa diprediksi. Dalam kondisi seperti itu, peta tidak lagi bisa diandalkan, akses terputus, dan banyak wilayah menjadi sulit dijangkau dalam waktu cepat. Itu menjadi pelajaran mahal tentang bagaimana kegagalan tanah dapat melumpuhkan sistem transportasi secara total.

Kembali ke konteks Maluku Utara dan Sulawesi Utara, karakter wilayah pesisir dan tanah berbutir lepas membuat risiko seperti ini tidak bisa diabaikan. Tidak semua lokasi akan mengalami likuefaksi, tetapi potensi itu selalu ada. Di sinilah menjadi jelas bahwa membangun jalan di wilayah rawan gempa tidak cukup hanya dengan pendekatan konvensional. Tidak cukup hanya membuat jalan yang kuat, tetapi harus membuat jalan yang tetap berfungsi dalam kondisi tidak normal.

Di sinilah konsep penting itu muncul: redundansi jalan.

Artinya sederhana, tetapi dampaknya besar. Jalan tidak boleh bergantung pada satu jalur utama saja. Harus ada alternatif. Harus ada pilihan. Harus ada jalur lain yang tetap bisa digunakan ketika satu jalur gagal.

Bayangkan jika hanya ada satu akses menuju rumah sakit, lalu jalan itu terputus. Semua akan berhenti. Namun jika tersedia dua atau tiga jalur, maka satu kerusakan tidak langsung melumpuhkan sistem. Inilah cara berpikir yang mulai diterapkan di banyak negara rawan gempa: bukan sekadar memperkuat satu jalan, tetapi membangun jaringan yang saling mendukung.

Selain itu, pendekatan teknis juga mulai berubah. Jalan tidak lagi dipaksakan sepenuhnya kaku, tetapi mulai dirancang lebih adaptif. Tanah dasar diperkuat agar tidak mudah kehilangan kestabilan. Struktur dibuat lebih toleran terhadap pergerakan. Beberapa bagian didesain agar jika rusak, tidak menjalar terlalu jauh. Tujuannya bukan membuat jalan yang tidak rusak sama sekali—karena itu hampir mustahil—melainkan memastikan jalan tidak langsung kehilangan fungsinya.

Pada akhirnya, gempa memang tidak bisa dicegah. Energi di dalam bumi akan selalu mencari jalan keluar. Namun dampaknya terhadap manusia dapat dikurangi, jika cara membangun ikut berubah.

Dan sering kali, yang menentukan bukan hanya seberapa kuat bangunan bertahan, tetapi seberapa cepat manusia bisa bergerak menjauh dari bahaya.

Di situlah peran jalan menjadi sangat nyata.
Ia bukan sekadar penghubung antarwilayah.
Ia adalah jalur evakuasi.
Ia adalah jalur kehidupan.

Dan dalam situasi paling genting, satu jalur yang masih terbuka bisa menjadi pembeda antara selamat… dan terlambat.

Leave a comment