Di sebuah stasiun, seorang mahasiswi menatap layar ponselnya. Angka digital menunjukkan tiga menit lagi MRT yang ia tunggu akan tiba. Ia berdiri tenang, napasnya teratur, tanpa kecemasan akan terlambat masuk kelas. Bagi komuter di Jakarta, pemandangan seperti ini terlihat biasa saja. Namun bagi sebagian orang di Timur Indonesia, ketepatan waktu dalam perjalanan masih merupakan suatu kemewahan.
Kita sering mengira transportasi hanyalah perkara mesin yang bergerak dan jalan yang diaspal. Padahal ia jauh lebih dalam. Transportasi adalah jembatan antara harapan dan kesempatan, antara mimpi yang dimiliki seseorang dan kemungkinan untuk mencapainya. Di balik kemudahan yang dinikmati mahasiswi tadi, masih ada jutaan orang lain yang hidupnya ditentukan oleh rusaknya jalan, mahalnya ongkos angkut, atau jauhnya jarak yang memisahkan mereka dari sekolah, pasar, dan rumah sakit.
Kesadaran inilah yang mendorong dunia, melalui United Nations, memulai sebuah perjalanan bersama: Decade of Sustainable Transport 2026–2035. Sebuah upaya global untuk memastikan bahwa cara manusia bergerak di bumi tidak hanya lebih cepat dan efisien, tetapi juga lebih adil, lebih aman, dan lebih ramah bagi masa depan planet ini.
Ada enam janji yang ingin diwujudkan dalam perjalanan besar ini.
Pertama adalah hak untuk terhubung (universal access). Di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, jalanan pernah terendam banjir sehingga anak-anak sekolah harus digendong oleh orang dewasa agar dapat menyeberang dan tiba di kelas. Bagi mereka, transportasi bukanlah pilihan antara naik bus atau kereta, melainkan pertanyaan yang jauh lebih sederhana dan mendasar: apakah hari ini mereka bisa sampai ke sekolah atau tidak. Akses transportasi yang layak berarti memastikan bahwa jarak tidak lagi menjadi penghalang bagi masa depan seorang anak.
Kedua adalah tentang napas bumi dan pondasi tangguh (decarbonization and environmental resilience). Kita belajar dari Sulawesi Tengah, di mana bencana hebat menyadarkan kita bahwa aspal yang rapuh bisa melumpuhkan kehidupan dalam sekejap. Membangun transportasi yang berkelanjutan berarti membangun infrastruktur yang tangguh terhadap perubahan iklim dan bencana alam. Di saat yang sama, kita beralih ke energi bersih agar naiknya air laut tidak menenggelamkan dermaga tempat kita menggantungkan hidup. Menghijaukan transportasi adalah cara kita mencintai masa depan sebelum terlambat.
Selanjutnya berkaitan dengan rahasia harga di meja makan (global connectivity and logistics efficiency). Di Pegunungan Arfak, Papua Barat, petani sering mengeluhkan mahalnya biaya transportasi untuk membawa hasil sayur mereka ke pasar di Manokwari. Ongkos angkut kadang lebih mahal daripada nilai sayur yang mereka bawa. Ketika logistik mahal, bukan hanya petani yang dirugikan, namun seluruh rantai ekonomi ikut terbebani. Membenahi transportasi berarti memotong biaya distribusi, membuka akses pasar, dan memastikan bahwa pangan sampai ke meja masyarakat dengan harga yang lebih masuk akal.
Keempat adalah tentang kota yang memanusiakan kita (people-centered urban mobility). Selama puluhan tahun banyak kota dirancang seolah-olah mobil pribadi adalah pusat kehidupan. Jalan diperlebar untuk kendaraan, sementara ruang bagi pejalan kaki sering kali menjadi sisa dari perencanaan. Kota yang benar-benar maju justru melakukan hal sebaliknya. Ia memberi ruang bagi manusia untuk berjalan, bersepeda, dan berinteraksi. Kota yang baik bukanlah kota dengan jalan paling lebar, tetapi kota yang membuat warganya merasa nyaman bergerak tanpa harus selalu bergantung pada kendaraan pribadi.
Kelima adalah janji untuk pulang dengan selamat (safety and security). Setiap tahun lebih dari satu juta orang di dunia kehilangan nyawa di jalan raya. Di balik angka itu ada keluarga yang menunggu di rumah, ada pelukan yang tak pernah kembali. Transportasi yang berkelanjutan bukan hanya soal efisiensi perjalanan, tetapi juga tentang keselamatan setiap orang yang berada di dalamnya. Sistem yang baik memastikan bahwa setiap ibu yang pulang dari pasar, setiap anak yang pulang bermain, dan setiap pekerja yang kembali dari kantor dapat sampai di rumah dengan utuh.
Terakhir adalah kekuatan gotong royong (partnership and finance). Perubahan besar dalam sistem transportasi tidak mungkin dilakukan oleh satu pihak saja. Ia membutuhkan kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, dan masyarakat luas. Ketika kemitraan ini dijalankan dengan baik, gambar desain yang semula hanya di atas kertas perlahan berubah menjadi jalan, jembatan, dan sistem transportasi yang benar-benar membawa kita melaju ke depan.
Tahun 2026 adalah garis start bagi perjalanan panjang ini. Tantangan sebenarnya bukan hanya pada seberapa cepat kita membangun infrastruktur, tetapi pada seberapa adil kita memastikan manfaatnya dirasakan oleh semua orang, termasuk mereka yang selama ini hidup jauh dari perhatian pembangunan.
Bayangkan Indonesia yang tidak lagi dibatasi oleh jarak, latar belakang, atau tempat kelahiran. Ketika anak muda di Pegunungan Arfak dan di Jakarta sama-sama berani bermimpi besar, saat itulah masa depan Indonesia benar-benar sedang dibangun. Karena sesungguhnya, setiap jalan yang kita bangun bukan hanya menghubungkan kota dengan kota, tetapi juga menghubungkan harapan dengan kesempatan.
Setiap meter aspal yang Anda hampar dan setiap baut jembatan yang Anda kencangkan adalah ibadah nyata bagi bangsa. Nama Anda mungkin tak terpahat di sana, namun manfaat keringat Anda akan dinikmati oleh generasi yang bahkan belum lahir saat ini. Terima Kasih kepada Anda yang menunda kepulangan di hari Lebaran, demi memastikan jutaan orang lain sampai ke rumah dengan aman.
Note: Tulisan ini terinspirasi dari the UN Implementation Plan for the Decade of Sustainable Transport Report 2026–2035 di bawah ini.

Leave a comment