Indonesia masih menghadapi biaya logistik yang tinggi, sekitar 23–24 persen dari PDB, dan peringkat Logistics Performance Index turun dari 46 pada 2018 menjadi 61 pada 2023, yang menunjukkan distribusi barang belum efisien meskipun pembangunan jalan terus dilakukan.
Kondisi ini sangat relevan jika dilihat dari konteks Nusa Tenggara Timur (NTT), sebuah provinsi kepulauan yang terdiri dari 5 pulau besar dan sekitar 1200 pulau kecil lainnya dengan tantangan geografis berupa jarak antarpulau, topografi berbukit, dan pusat ekonomi yang tersebar, sehingga konektivitas jalan memang menjadi kebutuhan dasar.
Dalam lima tahun terakhir, pemerintah melalui program Inpres Jalan Daerah (IJD) dan proyek Kementerian PU telah membangun dan meningkatkan banyak ruas jalan di NTT, termasuk ratusan kilometer jalan daerah dan akses ke sentra produksi serta wilayah terpencil, yang secara nyata membuka isolasi wilayah dan mempercepat mobilitas masyarakat.
Namun, dalam perspektif teknik transportasi dan ekonomi infrastruktur, ada konsep penting yang disebut diminishing return, yaitu kondisi ketika penambahan kilometer jalan baru tidak lagi menghasilkan manfaat ekonomi sebesar sebelumnya; pada tahap awal, satu jalan baru bisa sangat berdampak karena membuka akses yang sebelumnya terputus, tetapi setelah jaringan dasar terbentuk, manfaat tambahan dari setiap kilometer baru cenderung menurun jika tidak diikuti peningkatan kualitas sistem seperti keandalan waktu tempuh, pemeliharaan jalan, integrasi dengan pelabuhan, dan kelancaran distribusi logistik.
Dalam bahasa sederhana, jalan yang lebih panjang belum tentu membuat biaya logistik turun jika perjalanan masih lambat, sering rusak, atau distribusi barang tetap mahal antar pulau.
Di NTT, tantangan utama bukan hanya panjang jalan, tetapi bagaimana jalan tersebut berfungsi secara nyata dalam sistem ekonomi kepulauan, misalnya mendukung konektivitas ke pelabuhan kecil, pasar lokal, kawasan pertanian, dan pusat logistik.
Oleh karena itu, rekomendasi untuk menggeser metrik keberhasilan dari sekadar jumlah kilometer jalan menjadi outcome ekonomi seperti biaya logistik yang lebih murah, waktu tempuh yang lebih pasti, akses tenaga kerja yang lebih luas, dan distribusi barang yang lebih stabil sangat relevan untuk NTT, karena dengan kondisi wilayah yang tersebar, peningkatan kinerja sistem transportasi yang andal seringkali memberikan dampak ekonomi yang lebih besar dibanding hanya menambah panjang jalan baru.

Leave a comment