Ngerasa nggak sih, makin ke sini kok rasanya jalan lebih cepat rusak? Baru ditambal sebentar, eh beberapa bulan kemudian muncul retak lagi. Lubang datang silih berganti. Baru saja aspal hitam legam dihamparkan, hitungan bulan kemudian retak rambut mulai menjalar. Begitu musim hujan tiba, lubang-lubang maut bermunculan bak cendawan. Publik kerap menuding kualitas aspal yang “disunat” atau kontraktor yang nakal. Namun, sebelum telunjuk diarahkan ke sana, ada persoalan struktural yang jauh lebih pelik: manajemen aset yang sekarat.
Indonesia memikul beban raksasa berupa jaringan jalan sepanjang ±549.161 km (data BPS 2023). Ironisnya, struktur tanggung jawabnya timpang. Jalan nasional yang relatif mulus hanya membentang 47.603 km atau sekitar 8,6 persen. Sisanya? Lebih dari 80 persen adalah jalan kabupaten/kota yang menjadi “anak tiri” dalam penganggaran. Di sinilah bom waktu itu diletakkan.
Paradoks Anggaran: Membangun Megah, Merawat Susah
Secara teknis, jalan adalah aset yang “bernapas” dan menua. Logika perawatannya serupa dengan kendaraan bermotor. Jika sebuah ruas jalan dibangun dengan biaya Rp10 miliar per kilometer, standar manajemen aset internasional mensyaratkan biaya preservasi rutin sebesar 2–3 persen per tahun—sekitar Rp200–300 juta. Dana ini adalah “obat pencegah” agar retak rambut tidak berubah menjadi kubangan.
Namun, kenyataan di lapangan adalah anomali. Di tingkat daerah, APBD sering kali habis tersedot untuk belanja pegawai dan urusan wajib seperti pendidikan atau kesehatan. Walhasil, dana pemeliharaan jalan hanya mendapat remah-remah. Ketika pemeliharaan rutin absen, munculah apa yang disebut sebagai backlog—akumulasi kerusakan yang tertunda.
Jebakan Backlog dan Turun Mesin
Retak kecil yang diabaikan adalah undangan terbuka bagi air untuk meresap dan menghancurkan struktur fondasi (subgrade). Dalam hitungan bulan, kerusakan ringan bertransformasi menjadi kerusakan berat. Di titik ini, biaya perbaikan membengkak hingga 5-10 kali lipat dari biaya pemeliharaan rutin. Ibarat pemilik motor yang abai mengganti oli seharga seratus ribu rupiah, hingga akhirnya harus keluar jutaan rupiah karena mesin jebol.
Beban ODOL dan Tantangan Masa Depan
Persoalan kian pelik dengan maraknya kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL). Aspal yang dirancang untuk beban tertentu dipaksa menahan beban berlipat ganda. Tanpa penegakan hukum yang tegas di jembatan timbang, aspal kualitas terbaik sekalipun akan menyerah sebelum waktunya. Kerusakan jalan yang kita keluhkan setiap hari bukanlah kejutan alamiah. Ia adalah konsekuensi logis dari ketimpangan antara ambisi membangun dan ketidakmampuan merawat.
Menjaga jalan itu sebenarnya sama saja dengan kita menjaga amanah; bukan cuma soal gagah-gagahan saat memotong pita peresmian, tapi soal bagaimana kita telaten merawatnya setiap hari. Kita perlu mengubah cara pandang: biaya pemeliharaan itu bukan beban yang menghabiskan uang, melainkan investasi supaya ekonomi warga tetap jalan dan harga-harga barang tidak melonjak mahal karena logistik yang terhambat. Bayangkan jika setiap retak kecil langsung kita obati, maka kita sedang menyelamatkan anggaran negara dari pemborosan besar di masa depan. Pada akhirnya, jalan yang mulus adalah bukti bahwa kita peduli pada kenyamanan anak cucu kita nanti, memastikan mereka bisa melaju lebih jauh karena kita hari ini cukup bijak untuk tidak sekadar membangun, tapi juga setia menjaga.

Leave a comment