Jalan Bagus Kok Diperbaiki? Ternyata Ini Alasannya

Pernah heran, kenapa kadang jalan yang masih mulus malah diperbaiki duluan, padahal masih banyak jalan rusak yang belum diperbaiki? Tenang, itu bukan proyek “asal-asalan.” Justru itu strategi cerdas para ahli jalan untuk menjaga jalan tetap awet.

Gambar di bawah ini menunjukkan hubungan antara sisa umur jalan dan tingkat kerusakannya, atau biasa dikenal dengan “deterioration model

Sumber: Surat Edaran Direktur Jenderal Bina Marga No 09/SE/Db/2021 tentang Perencanaan dan Pemrogaman Pekerjaan Preservasi Jaringan Jalan, halaman 23

Grafik di atas nunjukin dua hal penting. Pertama, International Roughness Index IRI, atau sering disebut Indeks Ketidakrataan Jalan, yang merupakan ukuran seberapa bergelombang permukaan jalan. Kalau angkanya kecil (1 sampai 3), artinya jalan itu masih halus dan nyaman dilalui. Kalau angkanya besar (di atas 8) artinya jalan sudah sangat bergelombang dan tidak nyaman untuk kendaraan. Intinya, semakin besar IRI, semakin jelek kondisi jalan.

Kedua, Remaining Structural Life RSL (Sisa Umur Jalan) yang nunjukin seberapa lama lagi jalan bisa bertahan sebelum rusak total. Misal kalau tertulis RSL = 5, artinya jalan itu masih bisa dipakai untuk 5 tahun lagi sebelum butuh perbaikan besar.

Sama seperti tubuh kita, jalan juga punya usia hidup dan tanda-tanda penuaan. Ada fase sehat, fase kritis, dan fase rusak total. Yuk kita bahas!

FASE SEHAT

Saat baru dibangun, jalan terasa mulus dan nyaman. Di fase ini, kerusakan masih ringan, mungkin cuma retak halus. Perawatannya juga ringan: cukup tambal retak tersebut. Kalau perawatan rutin ini dilakukan terus, jalan bisa awet sampai puluhan tahun tanpa perlu bongkar besar-besaran.

Ibarat motor baru, saat masih mulus, kamu cuma perlu ganti oli rutin, cuci, dan servis kecil. Biayanya murah, waktunya singkat, sehingga motor tetap awet.

FASE KRITIS

Begitu jalan mencapai umur rencana, (lihat kotak kuning saat RSL = 0), nilai ketidakrataanya melewati batas kritis (IRI = 8). Inilah sinyal bahwa jalan itu butuh perbaikan besar atau rehabilitasi untuk memperpanjang umurnya.

Ibarat motor tua yang mesinnya mulai rusak, harus diperbaiki dengan turun mesin karena ganti oli saja sudah ngga mempan. Biayanya memang lebih mahal, tapi kalau tidak diperbaiki, bisa-bisa motor tersebut ngga bisa nyala lagi.

Nominal pavement lifespan 20 tahun berarti jalan dirancang untuk bertahan sekitar 20 tahun dari kondisi baru sampai saat perlu perbaikan besar. Di tahun-tahun awal, tingkat kerusakan cukup lambat, tapi semakin mendekati umurnya, kerusakan bisa meningkat cepat. Kata “nominal” itu maksudnya adalah umur rencana di atas kertas. Pada kenyataannya, umur jalan sangat bergantung dari volume lalu lintas, berat muatan yang melintasi, kondisi tanah dasar, drainase, dan cuaca.

FASE RUSAK TOTAL

Kalau turun mesin tadi diabaikan, motor tersebut lama-lama nggak bisa nyala lagi. Mesinnya rusak total, bodinya karatan, dan suku cadangnya udah nggak bisa diselamatkan. Akhirnya satu-satunya pilihan adalah beli motor baru — mahal, makan waktu, dan butuh biaya besar.

Bagian kotak merah pada grafik menunjukkan apa yang terjadi jika jalan dibiarkan rusak setelah melewati batas bahaya (IRI = 8). Inilah yang disebut fase percepatan kerusakan (accelerated deterioration).

Di tahap ini, jalan tidak rusak perlahan lagi — tapi rusak dengan sangat cepat. Dalam waktu hanya beberapa tahun, permukaan jalan menjadi sangat bergelombang dan penuh lubang, IRI melonjak tajam, dan kerusakan merembet ke lapisan bawah.

Kalau sudah separah ini, tambal-sulam atau rehabilitasi ringan sudah tidak cukup. Satu-satunya pilihan adalah rekonstruksi dengan membongkar seluruh lapisan jalan, menggali sampai ke struktur bawah, lalu membangun ulang dari awal. Tentu saja, biayanya jauh lebih mahal dan mengganggu lalu lintas lebih lama.

KESIMPULAN

Grafik penurunan kondisi jalan mengingatkan kita bahwa semakin cepat jalan dirawat, semakin lama ia bisa bertahan. Sedikit perhatian di awal jauh lebih efisien daripada perbaikan besar saat sudah terlambat. Karena pada akhirnya, prevention is better than cure.

Leave a comment