Mengungkap Dampak Kecelakaan Lalu Lintas: Temuan dari Safety 2024 di Delhi

Konferensi Dunia ke-15 tentang Pencegahan Cedera dan Promosi Keselamatan, atau “Safety 2024”, berlangsung di Delhi pada 2-4 September 2024. Acara ini mengumpulkan para ahli, pembuat kebijakan, peneliti, dan praktisi dari berbagai disiplin ilmu untuk membahas isu-isu terkait pencegahan cedera dan keselamatan di seluruh dunia.

Tema utama konferensi mencakup berbagai aspek keselamatan, termasuk keselamatan jalan, kesehatan masyarakat, dan rehabilitasi. Melalui sesi-sesi yang interaktif, peserta berbagi penelitian terbaru, praktik terbaik, dan inovasi dalam strategi pencegahan cedera. Salah satu sesi menarik adalah saat Global Road Safety Facility GRSF membawakan studi berjudul “BEYOND THE NUMBERS: ESTIMATING THE DISABILITY BURDEN OF ROAD TRAFFIC INJURIES Findings from Six Low and Middle-Income Countries” di bawah ini

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa kecelakaan lalu lintas melukai hingga 50 juta orang setiap tahun dan mengakibatkan 1,35 juta kematian, menjadikannya isu kesehatan global yang signifikan, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (Low and Middle Income Countries) (LMIC). Sekitar 81% dari korban adalah pria, dan mayoritas adalah pengguna jalan yang rentan, seperti pejalan kaki dan pengendara sepeda motor.

Studi ini bertujuan untuk mengisi kekurangan pengetahuan mengenai cedera lalu lintas (Road Traffic Injuries) (RTI) dengan menganalisis data dari enam LMIC: Bangladesh, Kamboja, Ethiopia, Meksiko, Ukraina, dan Zambia. Penelitian ini berfokus pada memperkirakan kecacatan terkait RTI, mengidentifikasi faktor risiko utama, dan merekomendasikan intervensi. Data dikumpulkan melalui pemantauan rumah sakit dan wawancara lanjutan dengan pasien pada interval 1, 3, dan 6 bulan setelah keluar dari rumah sakit.

Temuan kunci menunjukkan bahwa 81% korban RTI adalah pria, dengan 55% di antara mereka berusia 18-34 tahun. Sekitar 75% dari korban RTI berada di dalam kendaraan, dan 46% di antaranya mengendarai sepeda motor. Hanya 30% pengendara sepeda motor yang mengenakan helm, dan kurang dari 20% pengemudi mobil menggunakan sabuk pengaman. Sebagian besar pasien mengalami cedera otak traumatis ringan, dan hanya 56% yang menerima perawatan segera dari tenaga medis terlatih.

Dampak jangka panjang juga sangat signifikan. 74% pasien melaporkan kesulitan enam bulan setelah keluar dari rumah sakit, dan hanya 44% yang kembali ke kehidupan normal. Biaya perawatan yang tinggi rata-rata mencapai 10% dari pendapatan tahunan rumah tangga, dengan 84% pasien menggunakan dana pribadi dan 56% melaporkan meminjam uang untuk perawatan.

Rekomendasi mencakup peningkatan infrastruktur pelindung untuk pengguna jalan yang rentan, penegakan penggunaan alat keselamatan, dan perbaikan layanan medis darurat. Akses rehabilitasi yang lebih baik dan kampanye kesehatan masyarakat juga sangat penting. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami dampak ekonomi RTI dan mengembangkan intervensi yang ditargetkan untuk mengurangi kecacatan dan kematian.

Laporan studi di atas dapat diunduh di bawah ini

Leave a comment