Berdasarkan laporan Coronavirus Exposure Asia Pacific Moody’s Investors Service, dampak Covid-19 terhadap sektor konstruksi tergolong rendah, sama seperti sektor consumer products, investment, IT services, packaging, telecoms and media, and trading companies.
Dampak yang tinggi terdapat pada sektor penerbangan, otomotif, gaming, global shipping, oil and gas, retail and hospitality dan steel. Sedangkan dampak menengah terdapat pada sektor beverages, chemicals, commercial property, natural products, protein and agriculture, dan refining and marketing.
Namun demikian, terdapat tantangan pelaksanaan new normal dalam dunia konstruksi [1], antara lain:
- pelaksanaan dengan sistem padat karya
- mobilitasi material dan peralatan
- pelaksanaan metode kerja yang sulit menerapkan physical distancing
- resiko infeksi yang tinggi, karena banyaknya jumlah pekerja yang berkumpul di area bedeng atau kantin
- low digital culture di dunia konstruksi
- remote area
- 24 hours of working schedule
Berdasarkan Gapensi [2], fakta di lapangan, banyak proyek yang tertunda karena mobilitas material dan pekerja yang terganggu. Pemerintah dipadang perlu mengeluarkan kebijakan terkait perpanjangan waktu, rescoping pekerjaan, meniadakan denda, eskalasi harga, penyesuaian harga satuan, penambahan biaya untuk pengadaan APD, serta penurunan suku bunga terkait leasing alat berat.
Covid-19 juga berdampak pada pemotongan anggaran Kementerian PUPR hampir 40% di tahun 2020, semula Rp 120 triliun menjadi Rp 75 triliun. [3]. Selain adanya keterlambatan penyelesaian akibat terkendalanya mobilitasi peralatan, material dan tenaga kerja, dampak lain adalah peningkatan biaya pelaksanaan, dan adanya potensi sengketa konstruksi.
Kementerian PUPR [1] memiliki 4 protokol dalam situasi New Normal ini, antara lain:
- protokol umum
- protokol pemilihan penyedia
- protokol pelaksanaan pekerjaan
- protokol penyesuaian kontrak
Jika kita melihat lebih jauh ke depan, Deloitte memiliki beberapa strategi agar para kontraktor dapat sukses di kondisi pandemi ini [4], antara lain:
- Menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan produktifitas, mengurangi biaya, dan menyelesaikan proyek tepat waktu
- Meningkatkan efisiensi dengan menghubungkan lokasi pekerjaan dengan digital supply chain
- Menggunakan teknologi sensor untuk mengetahui apakah APD yang tepat telah digunakan pada suatu lokasi
- Menggunakan cloud services untuk memastikan pelaksanan dapat dikelola dari jarak jauh
- Menggunakan drones dan robot untuk mengurangi kebutuhan inspeksi lapangan dan pekerjaan berulang seperti memasang bata
- Menggunakan 5D BIM, augmented reality dan virtual reality untuk mendesain proyek tanpa harus berada di lokasi pekerjaan
- Menggunakan komponen modular dan pre-fabrikasi, mulai dari desain dan pemasangan
[1] Bahan Paparan “Keselamatan Konstruksi dalam Perspektif Permen PUPR 14/2020” by Dr. PM, Direktur Pengembangan Jasa Konstruksi Kementerian PUPR
[2]https://www.suara.com/bisnis/2020/04/03/141234/industri-jasa-konstruksi-tak-luput-dari-hantaman-corona
[3]https://finance.detik.com/infrastruktur/d-5051410/begini-ganasnya-dampak-corona-terhadap-proyek-infrastruktur
[4] https://www.enr.com/articles/49665-deloitte-contractors-can-combat-covid-19-crisis-with-resilience

Leave a comment